Music

Thursday, January 17, 2013

Tata bahasa Bahasa Indonesia dalam EYD




Tata bahasa Bahasa Indonesia dalam  EYD (ejaan yang disempurnakan)
Ejaan yang disempurnakan atau yang lebih dekenal dengan singkatan EYD adalah ejaan yang mulai resmi dipakai dan digunakan di Indonesia tanngal 16 agustus 1972. Ejaan ini masih tetap digunakan hingga saat ini. EYD adalah rangkaian aturan yang wajib digunakan dan ditaati dalam tulisan bahasa indonesia resmi. EYD mencakup penggunaan dalam 12 hal, yaitu penggunaan huruf besar (kapital), tanda koma, tanda titik, tanda seru, tanda hubung, tanda titik koma, tanda tanya, tanda petik, tanda titik dua, tanda kurung, tanda elipsis, dan tanda garis miring


a.    Sejarah
Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia Tun Hussein Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan. Pada tanggal 16 Agustus1972, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin bagi bahasa Melayu ("Rumi" dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) dan bahasa Indonesia. Di Malaysia, ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB).
Selanjutnya pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975 Nomor 0196/U/1975 memberlakukan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dan "Pedoman Umum Pembentukan Istilah".
Pada tahun 1987, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan". Keputusan menteri ini menyempurnakan EYD edisi 1975.
Pada tahun 2009, Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Dengan dikeluarkannya peraturan menteri ini, maka EYD edisi 1987 diganti dan dinyatakan tidak berlaku lagi
                          
Pendahuluan

1.  pengertian
A.kata
 Salah satu sifat tata bahasa tradisional ialah analisisnya berdasarkan arti. Sifat ini tercermin juga pada penentuan kata. Secara tradisional kata dijelaskan sebagai kumpulan huruf yang mengandung arti. Jadi setiap kata tentu mengandung arti.

PENGGOLONGAN KATA SECARA TRADISIONAL
Penggolongan Kata oleh C. A. Mees (1957)
·         Kata benda atau nomen substantivum
            Kata benda ialah kata yang menyebut nama substansi atau perwujudan. Kata benda dibedakan menjadi kata benda konkret dan kata benda abstrak, yaitu bisa berupa kata dasar atau kata turunan.
1.    Kata keadaan atau nomen adjectivum
Fungsi kata keadaan:
a.    Fungsi predikat, yaitu apabila menduduki fungsi predikat.
b.    Fungsi atributif, yaitu apabila terikat pada kata benda.
c.    Fungsi substantif, yaitu apabila kata keadaan disubstantifkan oleh kata sandang dan mengganti substantif yang bersangkutan.
2.    Kata ganti atau pronominal
Kata ganti adalah kata yang menunjuk, menyatakan, atau menanyakan tentang sebuah substansi. Macam-macam kata golongan:
Kata ganti persona, yaitu kata yang mengganti nama persona.
-          kata ganti persona pertama, misalnya aku, saya, kami.
-          kata ganti persona kedua, misalnya engkau, kamu, tuan.
-          kata ganti persona ketiga, misalnya ia, dia, mereka
3.     Kata ganti mendiri ialah kata ganti yang mengganti diri persona itu sendiri, yaitu kata diri dan diri sendiri.

·         Kata ganti penunjuk ialah kata yang menunjuk tempat sesuatu substansi, yaitu kata ini dan itu.
·         Kata ganti relatif ialah kata yang menyatakan perhubungan antara sebuah sustansi dengan kalimat yang menjelaskan, yaitu kata yang.
·         Kata ganti penanya, yaitu yang menyatakan pertanyaan mengenai nama substansi, misalnya kata apa, siapa, dan mana.
·         Kata ganti tak tentu, yaitu kata yang menyatakan suatu substansi yang tak tentu, misalnya kata apa, siapa-siapa, anu, sesuatu.
·         Kata kerja transitif, yaitu kata kerja yang membutuhkan substantif supaya sempurna artinya.
·         Kata kerja intransitif, yaitu kata kerja yang sudah sempurna artinya, maka tidak dapat dibubuhi substantif sebagai pelengkap.

4.    Kata kerja atau verbum
Selain itu ada kata kerja kopula, yaitu kata kerja yang bertindak sebagai kopula, misalnya kata adalah, jadi, menjadi.
5.    Kata Bilangan atau numeri
·         Induk kata bilangan, misalnya kata satu, dua, seratus, lima ribu.
·         Kata bilangan tak tentu, misalnya kata beberapa, segala.
·         Kata bilangan kumpulan, misalnya kata ketiga, berlima.
·         Kata bilangan tingkat, misalnykata kesatu, kedua, ketiga.
·         Kata bilangan pecahan, misalnya kata dua pertiga, seperdua.

6.    Kata sandang atau articulus
Menurut fungsi dan pemakaiannya dibedakan menjadi:
(1) kata sandang tentu, yaitu kata yang;
(2) kata sandang persona, yaitu kata si dan sang;
(3) kata sandang tak tentu, yaitu kata seorang, sebuah, sesuatu.

7.    Kata depan atau praepositio
                        Kata depan dipakai untuk menjelaskan pertalian kata-kata. Kata depan yang tulen adalah di, ke, dari. Di samping itu terdapat kata depan yang lain, yaitupada, akan, dengan, serta, antara, untuk, dan sebagainya.

8.    Kata keterangan atau adverbium
adalah kata yang menerangkan 1. kata kerja dalam segala fungsinya, 2. kata keadaan dalam segala fungsinya, 3. kata keterangan, 4. kata bilangan, 5. predikat kalimat, dan 6. menegaskan subjek dan predikat kalimat.
·         Kata keterangan waktu: dahulu, kemarin, hari ini, selamanya.
·         Kata keterangan modal, dibedakan menjadi:
-          kepastian, misalnya memang, niscaya, pasti, dan lain-lain.
-          Pengakuan, misalnya kata ya, benar, betulsebenarnya.
-          Kesangsian, misalnya kata agaknya, barangkali.
-          Keinginan, misalnya kata moga-moga, mudah-mudahan.
-          Ajakan, misalnya kata baik, mari, hendaknya.
-          Kewajiban, misalnya kata harus, perlu, wajib.
-          Larangan, ialah kata jangan.
-          Ingkaran, ialah kata bukan, bukannya, tidak.
-          Keheranan, ialah kata mustahil, mana boleh.
·         Kata keterangan tempat dan jurusan, misalnya kata di sini, dari situ, ke sana, dari mana, dan sebagainya.
·         Kata keterangan kaifat atau kualitatif, misalnya perlahan-lahan, dengan gembira, kuat-kuat, selebar-lebarnya, dan sebagainya.
·         Kata keterangan derajat dan permana, misalnya kata amat, hampir.
·         Kata tekanan, ialah kah, gerangan, pula, pun, lah.



9.    Kata sambung atau conjungtio
            ialah kata yang menghubungkan kata-kata, bagian-bagian kalimat, dan kalimat. Yang termasuk kata sambung misalnya kata apabila, bilamana, lagi pula, dan, agar, karena, dan sebagainya.

10. Kata seru atau interjection
Kata seru ialah kata yang menirukan bunyi manusia. Yang termasuk golongan kata seru misalnya ya, wah, ah, hai, o, oh, cis, dan sebagianya.

















PENGGOLONGAN KATA SECARA NONTRADISIONAL
Penggolongan Kata oleh Slametmuljana           

Berdasrkan fungsi kata dalam kalimat, kata digolongkan menjadi:
1.    Kata-kata yang pada hakekatnya hanya melakukan jabatan gatra sebutan
·         Kata keadaan, misalnya kata besar, sukar, bagus, dan sebagainya.
·         Kata kerja, misalnya kata mendayung, menangkap, diangkut.
-          kata kerja bantu ialah kata kerja yang menyatakan perbuatan yang ditunjuk terbatas dalam lingkungannya sendiri, misalnya kata jatuh danmenangis.
-          Kata kerja langsung ialah kata kerja yang dapat berhubungan dengan pelaku kedua (objek) tanpa perantara kata lain, misalnya membaca.
-          Kata kerja sambung ialah kata kerja yang dalam hubungannya dengan pelaku kedua menggunakan perantara kata lain, misalnya cinta kepada ayah.
2. Kata-kata yang dapat melakukan jabatan gatra pangkal dan gatra sebutan
·         Kata benda
-          kata benda yang menyatakan nama benda yang dapat dicapai dengan panca indera, misalnya kata batu, daun.
-          Kata benda yang tidak nyata, misalnya perbuatan, keka-yaan, perbuatan, dan sebagainya.
·         Kata ganti
-          kata penunjuk, yaitu kata itu dan ini.
-          Kata pemisah, yaitu kata yang dan tempat.
-          Kata ganti diri dan milik. Yaitu aku, kamu, dia.
-          Kata ganti tanya, misalnya apa, berapa, dimana.
-          Kata ganti sesuatu, misalnya seseorang, sesuatu.



·         Kata bilangan
-          bilangan pokok dibagi menjadi bilangan tunggal (satu, dua, dan seterusnya sampai sembilan) dan majemuk (kesatuan bilangan tunggal:11, 12,dan seterusnya).
-          Bilangan bantu, misalnya batang, belah, biji, buah, ekor.
-          Bilangan tak tentu, misalnya banyak, sedikit, beberapa.
-          Bilangan himpunan, keduanyaketiga orang itu.
3. Kata-kata pembantu regu II
·         Kata yang menjelaskan tempat kedudukan kata benda, yaitu iniitu.
·         Kata yng menunjukkan kekianan.
·         Kata keadaan dan kata benda yang memberi penjelasan kata benda tentang keadaannya, pemiliknya, dan sebagainya. Misalnya orang kaya, bapak saya.

4. Kata-kata pembantu pertalian
Ialah kata yang menjelaskan pertalian kata yang satu, kalimat yang satu dengan yang lain.
·         Kata yang menerangkan kata keadaan dan kata kerja, misalnya sekali, terlalu.
·         Kata yang menghubungkan kata yang satu, kalimat yang satu dengan yang lain, misalnya dari, ke, untuk.
·         Kata yang disisipkan dalam kalimat seakan-akan berdiri sendiri, lepas dari ikatan kalimat. Misalnya nah, hai, sayang, aduh.









2.   Penggunaan kata dalam tata bahasa Indonesia.

Dalam tata bahas Indonesia, ada berbagai macam jenis kata, yaitu:

A. Kata Dasar
Adalah Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya: Ibu percaya bahwa engkau tahu.

 

B. Kata Turunan

1.
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya:
§  bergeletar
§  dikelola
§  penetapan
§  menengok
§  mempermainkan
2.
Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Misalnya:
§  bertepuk tangan
§  garis bawahi
§  menganak sungai
§  sebar luaskan
3.
Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
§  menggarisbawahi
§  menyebarluaskan
§  dilipatgandakan
4.
Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
adipati
mahasiswa
aerodinamika
mancanegara
antarkota
multilateral
anumerta
narapidana
audiogram
nonkolaborasi
awahama
Pancasila
bikarbonat
panteisme
biokimia
paripurna
caturtunggal
poligami
dasawarsa
pramuniaga
dekameter
prasangka
demoralisasi
purnawirawan
dwiwarna
reinkarnasi
ekawarna
saptakrida
ekstrakurikuler
semiprofesional
elektroteknik
subseksi
infrastruktur
swadaya
inkonvensional
telepon
introspeksi
transmigrasi
kolonialisme
tritunggal
kosponsor
ultramodern
Catatan:
(1)
Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya:
§  non-Indonesia
§  pan-Afrikanisme
(2)
Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya:
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

C. Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya:
anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra
D. Gabungan Kata
1.
Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran, meja tulis, model linear, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang empat.
2.
Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
Misalnya:
alat pandang-dengaranak-istri saya, buku sejarah-barumesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, watt-jamorang-tua muda
3.
Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
Misalnya:
acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, darmasiswa, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, sastramarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar, titimangsa, wasalam

E. Kata Ganti kukaumu, dan nya
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; kumu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.

F. Kata Depan dike, dan dari
Kata depan dike, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dandaripada.
Misalnya:
Kain itu terletak di dalam lemari.
Bermalam sajalah di sini.
Di mana Siti sekarang?
Mereka ada di rumah.
Ia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
Ke mana saja ia selama ini?
Kita perlu berpikir sepuluh tahun ke depan.
Mari kita berangkat ke pasar.
Saya pergi ke sana-sini mencarinya.
Ia datang dari Surabaya kemarin.

H. Partikel
1.
Partikel -lah-kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik.
Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia.
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?


2.
Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Jangan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.






























BAB III
FUNGSI DAN CONTOH PENULISAN KATA

A. PREPOSISI  (kata depan)
Preposisi (Bahasa Latin: prae, "sebelum" dan ponere, "menempatkan, tempat") atau kata depan adalah kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat dan biasanya diikuti oleh nomina ataupronomina. Preposisi bisa berbentuk kata, misalnya di dan untuk, atau gabungan kata, misalnya bersama atau sampai dengan.

a.    Penggolongan
Cara penggolongan preposisi bervariasi tergantung dari rujukan yang digunakan. Berikut salah satu cara penggolongan yang dapat digunakan:
1.    Preposisi yang menandai tempat. Misalnya dikedari.
2.    Preposisi yang menandai maksud dan tujuan. Misalnya untukguna.
3.    Preposisi yang menandai waktu. Misalnya hinggahampir.
4.    Preposisi yang menandai sebab. Misalnya demiatas.


1. fungsi dan penggunaan kata “Di, ke, dari, daripada, pada. “

Kata depan(preposisi) ialah kata yang menunjukkan hubungan arah atau tempat antara bagian kalimat. Kata depan termasuk dalam unsur pembentuk kalimat . Tanpa kata depan kadang – kadang suatu rangkaian kata tidak dapat menjadi kalimat dan maknanya menjadi kabur .
Contoh :
·         Surabaya ayahnya bekerja sebuah perusahaan

Menjadi jelas jika menggunakan kata depan :

·         Di Surabaya ayahnya bekerja di sebuah perusahaan





Macam-macam kata depan dan fungsinya :


Kata depan
Fungsi
di
ke
dari
dalam
Menghubungkan kalimat atau bagian kalimat yang menyatakan tempat
pada
Menghubungkan bagian kalimat yang menyatakan waktu atau tempat
akan
Sebagai pengantar obyek
dengan
-Menyatakan alat
-Menyatakan keadaan
-Menyatakan hubungan kesertaan
-Menyatakan keterangan perbandingan
atas
-Menghubungkan kata benda & kata kerja
-Menggantikan kata dengan , demi , atas nama , atas perintah , atas kehendak , atas anjuran.
antara
-Penunjuk jarak
-Penunjuk tempat
-Penunjuk dugaan
bagi
untuk
guna
buat
Menandai hubungan peruntukan / tujuan
dari
Menandai hubungan arah , asal dari , suatu tempat atau milik
oleh
Menandai hubungan pelaku
tentang
Menandai hubungan peristiwa
sejak
Menandai hubungan waktu dari saat yang satu ke saat yang lain
selama
sepanjang
Menandai hubungan kurun waktu
sampai dengan
Menandai hubungan batas waktu
selain itu
kecuali
Menandai hubungan perkecualian
barangkali
mungkin
Menandai hubungan kemungkinan

Penulisan preposisi ini ditulis terpisah, contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.
Perkecualian untuk hal ini adalah:
§  kepada
§  keluar (sebagai lawan kata "masuk", untuk lawan kata "ke dalam", penulisan harus dipisah, "ke luar")
§  kemari
§  daripada


v  Penggunaan kata depan “di”, “dari” dan “daripada”

                 Kata depan 'dari' dan 'daripada' sering membingungkan, dan karena itu, tidak sedikit orang yang menggunakan kata-kata itu secara tidak tepat. Berikut ini kami berikan beberapa contoh penggunaan kata tersebut dan penjelasannya secara singkat.

Kata 'dari' digunakan untuk menyatakan asal suatu benda, sedangkan 'daripada' digunakan untuk menyatakan perbandingan. Perhatikan contoh-contoh berikut ini.

·Mari kita cerna dengan baik semua usulan dari para peserta. (benar)
·Mari kita cerna dengan baik semua usulan daripada para peserta. (salah)
·Rumah itu lebih besar daripada yang aku bayangkan. (benar)
·Rumah itu lebih besar dari yang aku bayangkan. (salah)
·Banyak mendengar lebih baik daripada banyak bicara. (benar)
·Banyak mendengar lebih baik dari banyak bicara. (salah)








v  Penggunaan kata deapan “pada” dan “kepada”     

     Pada Hari Kasih Sayang (Hari Valentine) atau hari ulang tahun (ultah), mungkin Anda menerima sekotak coklat Godiva, Morozoff atau hadiah lain dari istri, suami, pacar atau teman tapi mesra (TTM) dengan tulisan apik: AKU CINTA PADAMU…
     Ungkapan rasa kasih sayang dan cinta sangat bervariasi baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.
Namun, pada ruang ini saya tidak bermaksud mempermasalahkan soal ungkapan cinta, tetapi segi tata bahasa baku dari kalimat tersebut di atas tentang pemakaian kata depan (preposisi) “pada” dan “kepada”. Benarkah pemakaian: “Aku cinta padamu” atau “Aku cinta kepadamu” menurut kaidah bahasa Indonesia yang baku?

     Marilah kita simak pemakaian kata depan (preposisi) “pada” dan “kepada”.

1. Kata depan (preposisi) Pada
      

                 kata depan “di” digunakan untuk menyatakan “tempat yang sebenarnya”, (di Tokyo, di kamar dll.) maka kata depan “pada” diletakkan di muka kata benda (nomina) atau frase benda yang “bukan nama tempat sebenarnya” (pada perusahaan, pada departemen dll.) sebagai varian dari kata depan “di”.
Contoh:
a. Dia bekerja sebagai supir pada sebuah perusahaan dagang di Tokyo..     
b. Perasaan sedih dan sepi masih terbayang pada wajahnya.  
c. Aku ingin tahu,masih adakah perasaan cinta pada dirimu?  







                 (Kata depan “pada” digunakan untuk menyatakan “tempat keberadaan.”. Letaknya di muka kata ganti orang (pronomina), nama perkerabatan, nama pangkat dan gelar.           
Contoh:
a. Kunci kamarmu ada pada ibu.     
b. Pada saya ada beberapa foto kenangan bersama kamu.       
c. Oleh-oleh untuk kamu saya titipkan pada Maria.          
Catatan:
Kata depan “pada” sebaiknya tidak digunakan di depan obyek dalam kalimat yang predikatnya mengandung makna “tertuju terhadap sesuatu”. Dalam hal ini kata depan “pada” sebaiknya diganti dengan kata depan “kepada”.

Contoh:
a. Dia minta tolong pada ayahnya. (x)         
  Dia minta tolong kepada ayahnya.(○)    
b. Kecaman itu ditujukan pada pemerintah.(x)      
  Kecaman itu ditujukan kepada pemerintah.(○)
c. Hadiah ini kuberikan sebagai tanda cinta pada kamu.(x)       
  Hadiah ini kuberikan sebagai tanda cinta kepada kamu. (○)

 Kata depan (preposisi) Kepada    
                 Kata depan “kepada” digunakan untuk menyatakan “tempat yang dituju”. Letaknya di depan obyek dalam kalimat yang predikatnya mengandung makna “tertuju terhadap sesuatu”. Kalau kata depan “ke” menyatakan “arah posisi tempat yang sebenarnya”, maka kata depan “kepada” menyatakan “arah posisi tempat yang tidak sebenarnya”.          
Contoh:
a. Kami ke pos polisi untuk melaporkan hal itu kepada polisi.   
b. Mereka akan minta bantuan kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH).     
c. Setiap tamu yang datang ke desa itu harus melapor kepada kepala desa. 

                 Sebagai varian kata depan “akan” dapat digunakan kata depan “kepada” untuk menyatakan “arah yang dituju”.        
Contoh:
a. Pada malam hari anak itu takut sekali kepada hantu. 
b. Dia selalu ingat kepada pacarnya yang tinggal di Bandung. 
c. Karyawan itu ditegur karena lupa kepada kewajibannya        


v  Kata depan ‘di’  
                  kata depan “di” digunakan untuk menyatakan “tempat yang sebenarnya”, (di Tokyo, di kamar dll.)
Misal :
 reza bekerja di Jakarta
amin tinggal di jerman
                 kata “di’ juga dapat dipakai untuk kependekan, misalanya kata adi pada adiraja~diraja
                
kata ‘di’ juga dapat dipakai sebagai kata depan partikel yang menunjukan waktu dan keterangan       
missal;
 di hari itu dia tak datang        
 jauh di mata, dekat di hati     









2. Fungsi dan penggunaan kata “ialah, yaitu, adalah, yakni, merupakan”       

A.   ialah       
            merupakan kata penghubung di antara dua penggal kalimat yang menegaskan perincian atau penjelasan atas penggalan kalimat  yg pertama itu:
misal:
 yangg perlu dikerjakan sekarang ialah membawa korban ke rumah sakit


B.  yaitu
            adalah sebuah kata penghubung yang merupakan gabungan kata penegasan dan partikel ’ya~itu’ dan digunakan untuk memerinci keterangan kalimat; yakni:
misal:
 yang pergi tahun ini dua orang, yaitu  dia dan saya
C. adalah     
            kata ‘ adalah” memiliki banyak fungsi, kata ini digunakan untuk mendeskripksikan dari kata atau penggalan kalimat pertama
1. identik dengan:
            Pancasila -- falsafah bangsa Indonesia;
2. sama maknanya dengan:
            Desember -- bulan kedua belas;
            gaji saya selama dua bulan adalah lima juta rupiah
3. termasuk dl kelompok atau golongan:
            saya -- pengagum Ki Hajar Dewantara


D. merupakan         
           
merupaka”’ adalah kata yang digunakan untuk mendeskripsikan. Kata ini adalh gabungan kata an imbuhan dari me~rupa~kan. kata ini mirip penggunaannya dengan kata ‘adalah’   
fungsi dari kata “merupakan”:

1. memberi rupa; membentuk (menjadikan) supaya berupa:
             formasi barisan itu ~ lambang PON;
2. adalah:
            kata ~ bagian terkecil dr bahasa;
3. menjadi:
            minyak bumi ~ hasil ekspor yg terpenting bagi negara kita;

E. Yakni
            Adalah kata partikel yang memiliki sifat menunjukkan. Sama arti dan penggunaanya dengan ‘yaitu’
misal :
ada sesuatu yang saya takuti, yaitu hantu        
ada sesuatu yang saya takuti, yakni hantu












B. KATA PENGHUBUNG

            Kita sering  menemukan kata dan, atau, sebab, karena, tetapi, meskipun, serta walaupun. Kata-kata ini dikenal sebagai kata penghubung.
Kata penghubung atau kata sambung bertugas menghubungkan dua kata atau kalimat (klausa). Dalam bahasa Indonesia, kata penghubung dibagi dalam lima kelompok.
v  Kata Penghubung Koordinatif
            Kata penghubung yang menghubungkan dua unsur atau lebih, yang sifat atau kedudukannya sama. Kata penghubung koordinatif, antara lain dan, atau,serta tetapi. Kata dan digunakan untuk menandai hubungan penambahan. Kata atau digunakan untuk menandai hubungan pemilihan. Kata tetapi digunakan untuk menandai hubungan perlawanan.
Perhatikan contoh berikut!
v  Karena terlalu asik bermain dan bercanda, mereka lupa mengerjakan tugas.
v  Bahan masakan ini dapat diganti dengan ikan atau daging sapi.
v  Mereka berlarian menuruni tangga, tetapi hanya dia yanng diam membatu.

v  Kata Penghubung Subordinatif
            Kata penghubung yang menghubungkan dua kalimat atau lebih, yang kedudukannya tidak sama. Dalam kalimat tersebut terdapat anak kalimat dan induk kalimat.




Berikut ini kalimat yang termasuk kalimat penghubung subordinatif.
a. Kata penghubung yang menunjukkan waktu: setelah, sebelum, ketika, sementara,  
     sehingga, sampai.
b. Kata penghubung yang menunjukkan syarat: jika, asalkan, manakala.
c. Kata penghubung yang menunjukkan pengandaian: seandainya, umpama.
d. Kata penghubung yang menunjukkan perlawanan: meskipun, kendatipun, biarpun.
e. Kata penghubung yang menunjukkan tujuan: agar, supaya, biar.
f. Kata penghubung yang menunjukkan kemiripan: seolah-olah, seperti, seakan-akan,   
    sebagaimana.
g. Kata penghubung yang menunjukkan akibat: sebab, karena.
h. Kata penghubung yang menunjukkan penjelasan: bahwa.
i. Kata penghubung yang menunjukkan cara: dengan.

v  Kata Penghubung Korelatif
            Kata penghubung yang menghubungkan dua kata, frase, atau klausa, yang mengandung kedudukan sama.
Contoh:
Baik pelatih maupun mahasiswa berlatih dengan tekun.
Apakah ditranfusi atau tidak, itu urusan dokter.
Entah berhasil, entah tidak, yang jelas ia tetap menolong korban itu.
Jangankan orang lain, ibunya pun tidak bisa menghalangi niat anaknya untuk masuk grup band tersebut.
v  Kata Penghubung Antarkalimat
            Kata penghubung yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Kata-kata yang termasuk konjungsi antarkalimat ialah walaupun, sekalipun demikian, sesudah itu, selanjutnya, selamanya, kemudian, sebaliknya, bahkan, akan tetapi, meskipun,dengan demikian, serta oleh karena itu.
v  Kata Penghubung Antarparagraf
            Kata penghubung yang menghubungkan paragraf sebelumnya dengan paragraf berikutnya. Kata penghubung ini ditandai oleh kata
(a) adapun, mengenai serta
(b) alkisah, konon.
Kelompok kata penghubung (a) sering digunakan di dalam bahasa Indonesia. Kelompok kata (b) umumnya terdapat pada naskah karya sastra lama.

*. Fungsi dan penggunaan kata “tetapi, meskipun, walaupun” 
           
1.  Tetapi.
Merupakan kata penghubung antar kalimat. Kata ini sama saja degan kata ‘tapi’, karena kata ‘tetapi’ sendiri adalh pengulanagn setengah kata dari kata ‘tapi’
kata tetapi pasti selalu ada di belakang tanda baca koma (,).
v  Fungsi:
sebagai kata penghubung pertentangan atau konjugasi koordinatif (dua kalimat yang sederajat degan mempertentangkan kedua bagian tersebut).
contoh:
        padahal aku sudah belajar dengan keras, tetapi tetap saja tidak berhasil

sebagai kata penghubung syarat/ kondisi.        
contoh;
            aku akan pergi, tetapi dia harus ikut
1.    Meskipun dan walaupun
Keduanya memilik arti dan fungsi yang sama, keduanya dalah kata penghubung antar kalimat (antar kalusa). yang menghubungkan dua kalimat menjadi satu arti.          
Fungsi:
            sebagai kata penghubung tak bersyarat, yaitu menjelasakan satu hal pada bagian kalimat tertentu dapat terjadi tanpa perlu ada syarat-syarat yang dipenuhi.
contoh:
 dia akan tetap pergi meskipun ibunya melarang
Dia akan tetap pergi walaupun ibunya melarang
Meskipun  dilarang oleh ibunya, dia akan tetap pergi
Walaupun dilarang ibunya, dia akan tetap pergi












C. kata ANTAR dan ANTARA
            Kata antar dan antara adalah kata sisipan yang menunjukkan pilihan atau hubungan. Sering pula di jumpai kata ‘antar’ dan ‘antara’ diikuti oleh kata lain yang dijelaskan oleh kata tersebut, misal : bus antar kota, antar jemput, antar desa

1. Antar.
            Kata ini digunakan untuk menunjukkan hubungan ‘dari’ dan ‘ke’. 
 (ex; antar desa, antar kota)           
misal:
saya naik bus antar kota ke rumah kakek saya
 (berarti dia naik bus dari kota ke kota ke rumah kakeknya)
2. Antara
v  Kata ini menghubungkan dua hal pada suatu kalimat yang di bandingkan.
misal;
            antara apel dan anggur, saya lebih memilih apel        

v  kata ini juga digunakan untuk menunjukkan bagian dari kalimat yang di jelaskan, Agar lebih tepat, disisipkan kata depan di. Atau diikuti kata ‘lain’ dan ‘nya’
misal:
            ada hal-hal penting yang diperlukan manusia, antara lain baju, air, rumah
                        ada hal-hal penting yang diperlukan manusia, diantaranya baju, air,rumah
(menunjukkan bagian dari ‘hal-hal penting yang di perlukan manusia’)
v  Kata ini juga digunakan untuk membandingkan dan member pilihan.
Misal:
            Diantara kami berdua, menurutmu mana yang lebih baik
D. kata depan ‘KE’ dan imbuhan ‘KE’
Pemakaian Kata “Ke”
Sering terjadi kesalahan pada pemakaian kata “ke” sebagai kata depan dan kata imbuhan. Sepertinya banyak yang tidak mengetahui perbedaan pemakaian tersebut. kalau begitu, mari kita simak perbedaan peletakan kata “ke” sebagai kata depan dan kata imbuhan.
 sebelumnya perlu dijelaskan sedikit apa yang dimaksud dengan kata depan dan kata imbuhan.
Kata depan adalah kata yang digunakan untuk menyatakan keterangan tempat, sedangkan kata imbuhan ialah kata yang digunakan sebagai imbuhan.
Mari kita simak penggunaannya:
~Kata Depan           
            Penulisan kata depan biasanya harus dipisah dengan kata keterangan yang akan mengikutinya.
Contoh:
Saya sedang berada di depan komputer.
Mereka membaca di perpustakaan.
Kami akan pergi ke Danau Toba.
Namun, ada pengecualian untuk beberapa hal. Misalnya “ke” pada kata “keluar”. Seharusnya “ke” pada kata “keluar” dipisahkan dari kata “luar”. Namun, karena hal ini dianggap sudah menjadi satu kata yang memang senyawa sehingga diterimalah secara umum.


~Kata Imbuhan
 kata imbuhan diletakkan melekat pada kata yang akan mengikutinya.
Contoh:
Kue itu telah dimakan si Ucok tadi malam.
Kapal itu masih tampak dari kejauhan.
Semoga hal ini bermanfaat bagi kita semua.

1.   “ KE ” sebagai imbuhan
‘ke’ sebagai imbuhan di letakkan melekat pada kata yang mengikutinya.
sebagai imbuhan, ‘ke’ memilik fungsi:
v  prefiks pembentuk no
yang mempunyai sifat atau ciri: (ex;ketua;)
yang dituju dengan: (ex: kekasih; kehendak)
v  prefiks pembentuk nu
 tingkat atau urutan: ketiga; kelima; kesebelas;
v  prefiks pembentuk ve
telah mengalami atau menderita keadaan atau kejadian (dengan tidak sengaja atau dengan tiba-tiba): ketabrak; kepergok; ketemu;
 dapat atau sanggup: kebaca; keangkat


2.   “KE’ sebagai kata depan
ke’ sebagai kata depan di letakan terpisah degan kata yang mengikutinya. Dan biasanya menunjukkan tempat atau arah.
Misal; ke pasar,

V. PEMAKAIAN TANDA BACA

A. Tanda Titik (.)
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:
Ayahku tinggal di Solo.
Biarlah mereka duduk di sana.
Dia menanyakan siapa yang akan datang.
Hari ini tanggal 6 April 1973.
Marilah kita mengheningkan cipta.
Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.

2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar,
     atau daftar.
Misalnya:
a. III. Departemen Dalam Negeri
A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
B. Direktorat Jenderal Agraria
1. …
b. 1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
      menunjukkan waktu.
Misalnya:
Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang 
      menunjukkan jangka waktu.
Misalnya:
1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)
5. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan
      yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.
Misalnya:
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.

6a. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya:
Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.
6b. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang
       tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Lihat halaman 2345 seterusnya.
Nomor gironya 5645678.
7. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan  
    atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
Misalnya:
Acara kunjungan Adam Malik
Bentuk dan Kedaulatan (Bab 1 UUD ’45)
Salah Asuhan
8. Tanda titik tidak dipakai di belakang  
    (1) alamat pengirim dan tanggal suat atau  
     (2) nama dan alamat surat.
Misalnya:
Jalan Diponegoro 82 (tanpa titik)
Jakarta (tanpa titik)
1 April 1985 (tanpa titik)
Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)
Jalan Arif 43 (tanpa titik)
Palembang (tanpa titik)
Atau:
Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)
Jalan Cikini 71 (tanpa titik)
Jakarta (tanpa titik)





B. Tanda Koma (,)
1. Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau
     pembilangan.
Misalnya:
Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
Surat biasa, surat kilat, maupun surat khusus memerlukan prangko.
Satu, dua, … tiga!
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat
      setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, atau melainkan.
Misalnya:
Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika
       anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
Kalau hari hujan, saya tida datang.
Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
3b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat
        jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya:
Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
Dia tahu bahwa soal itu penting.


3. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat
     yang terdapat pada awal kalimat.
Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Misalnya:
…. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
…. Jadi, soalnya tidak semudah itu.

4. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan
     dari katalain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya:
O, begitu?
Wah, bukan main!
Hati-hati, ya, nanti jatuh.
5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain
     dalam kalimat.
Misalnya:
Kata ibu “Saya gembira sekali.”
“Saya gembira sekali,” kata ibu, “karena kamu lulus.”

6. Tanda koma dipakai di antara
(i) nama dan alamat,
 (ii) bagian-bagian alamat,
 (iii) tempatdan tanggal, dan
 (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.


Misalnya:
Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas
Indonesia, Jalan raya Salemba 6, Jakarta.
Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor.
Kuala Lumpur, Malaysia.

7. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya  
    dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan
2. Djakarta: Pustaka Rakjat.

8. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Misalnya:
W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

9. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang
     mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau   
     marga.
Misalnya:
B. Ratulangi, S.E.
Ny. Khadijah, M.A.

10. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan sen
       yang dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
12,5 m
Rp12,50

11. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak
       membatasi.
Misalnya:
Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang aki-laki yang makan sirih.

Semua siswa, baik yang laki-laki maupun perempuan, mengikuti latihan paduan suara.
Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:
Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.


12.Tanda koma dapat dipakai―untuk menghindari salah baca―di belakang
       keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang sungguh-sungguh.
Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.
Bandingkan dengan:
Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam upaya pembinaan dan pengembanagan bahasa.
Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.

13. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian
       lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langung itu berakhir   
       dengan tanda tanya atau seru.
Misalnya:
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.
“Berdiri lurus-lurus!” perintahnya.









C. Tanda Titik Koma (;)
1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang
     sejenis dan setara.
Misalnya:
Malam akan larut; pekerjaan belum selesai juga

2. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk  
     memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk.
Misalnya:
Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; ibu sibuk bekerja di dapur; Adik
menghafal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan  siaran
“Pilihan Pendengar”.
D. Tanda Pisah (―)
1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan
     di luar bangun kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu―saya yakin akan tercapai―diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

2. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan oposisi atau keterangan yang lain
     sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Misalnya:
Rangkaian temuan ini―evolusi, teori kenisbian, dan kini juga
pembelahan atom―telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

3. Tanda pisah dipakai di antara dua dilangan atau tanggal dengan arti ‘sampai
     dengan’ atau‘sampai ke’.
Misalnya:
1910―1945
Tanggal 5―10 April 1970
Jakarta―Bandung

Catatan:
Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa
spasi sebelum dan sesudahnya.


E. Tanda Dua Titik (:)
1a. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti
       rangkaian atau pemerian.
Misalnya:
Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati.
1b. Tanda titk dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan
        pelengkap yang mengkahiri pernyataan.
Misalnya:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.
3. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan
     pemerian.
Misalnya:
a. Ketua                     : Ahmad Wijaya
   Sekretaris               : S. Handayani
               Bendahara             : B. Hartawan
b. Tempat Sidang     : Ruang 104
               Pengantar Acara   : Bambang S.
               Hari              : Senin
    Waktu                     : 09.30
4. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang
     menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : (meletakkan beberapa kopor) “Bawa kopor ini, Mir!”
Amir : “Baik, Bu.” (mengangkat kopor dan masuk)
Ibu : “Jangan lupa. Letakkan baik-baik!” (duduk di kursi besar)

5. Tanda titik dua dipakai
 (i) di antara jilid atau nomor dan halaman,
(ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci,
(iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan , serta
(iv) diantara nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Misalnya:
Tempo, I (34), 1971: 7
Surah Yasin: 9
Karangan Ali Hakim, Pedidikan Seumur Hidup: sebuah Studi, sudah terbit.
Tjokronegoro, Sutomo, Tjukuplah Saudara Membina Bahasa Persatuan Kita?
Djakarta: Eresco, 1968.


F. Tanda Hubung (-)
1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh
     pergantian baris.
Misalnya:
Di samping cara-cara lama itu juga cara yang baru

2. Tanda hubung meyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya:
Anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan
Angka 2 sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
4. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian
     tanggal.
Misalnya:
p-a-n-i-t-i-a
8-4-1973




5. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas
 (i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan
(ii) penghilangan baian kelompok kata.
Misalnya:
ber-evolusi, dua puluh lima-ribuan (20 x 5.000), tanggung jawab-dan
kesetiakawanan-sosial
Bandingkan dengan:
Be-revolusi, dua-puluh-lima-ribuan (1 x 25.000), tanggung jawab dan kesetiakawanan social

6. Tanda hubung dipakai untuk merangkai
(i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai
dengan huruf kapital,
(ii) ke- dengan angka,
(iii) angka dengan -an,
(iv) singkatan
berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan
(v) nama jabatan rangkap.
Misalnya:
se-Indonesia, se-Jawa Barat, hadiah ke-2, tahun 50-an, mem-PHK-kan, hari-H,
sinar-X; Menteri Sekretaris Negara.




7. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsure bahasa Indonesia dengan unsure
bahasa asing.
Misalnya:
di-smash, pen-tackle-an

G. Tanda Elipsis (…)
1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
Misalnya:
Kalau begitu … ya, marilah kita bergerak.
2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam satu kalimat atau naskah ada bagian yang
dihilangkan.
Misalnya:
Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.

Catatan:
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat
buah titik; tiga buah titik untuk menandai penghilangan teks dan atu untuk
menandai akhir kalimat.
Misalnya:

Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati….

 



Penulisan tanda baca

  1. Tanda titik
1.  Dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan
2.  Dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar (tidak dipakai jika merupakan yang terakhir dalam suatu deretan)
3.  Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu
4.  Dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka
5.  Dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya (tidak dipakai jika tidak menunjukkan jumlah)
6.  Tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya
7.  Tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat

2.   Tanda koma
1.  Dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan
2.  Dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan
3.  Dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya (tidak dipakai jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya)
4.  Dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi
5.  Dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat
6.  Dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat (tidak dipakai jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru)
7.  Dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan
8.  Dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka
9.  Dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki
10. Dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga
11. Dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka
12. Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi
13. Dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca

3.   Tanda titik koma
1.  Dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara
2.  Dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk



4.   Tanda titik dua
1.  Dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian (tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan)
2.  Dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian
3.  Dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan
4.  Dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan

5.   Tanda hubung
1.  Dipakai untuk menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris (Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris)
2.  Dipakai untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris (Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris)
3.  Dipakai untuk menyambung unsur-unsur kata ulang
4.  Dipakai untuk menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal
5.  Dapat dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata
6.  Dipakai untuk merangkaikan (i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan -an, (iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (v) nama jabatan rangkap
7.  Dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing


6.   Tanda pisah
1.  Dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat
2.  Dipakai untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas
3.  Dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti 'sampai ke' atau 'sampai dengan'
4.  Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya

7.   Tanda elipsis
1.  Dipakai dalam kalimat yang terputus-putus
2.  Dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan
3.  Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat

8.   Tanda tanya
1.  Dipakai pada akhir kalimat tanya
2.  Dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya

9.   Tanda seru
1.  Dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat




10. Tanda kurung
1.  mengapit keterangan atau penjelasan
2.  mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan
3.  mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan
4.  mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan

11. Tanda kurung siku
1.  mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli
2.  mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung

12. Tanda petik
1.  mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain
2.  mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat
3.  mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus
4.  Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
5.  Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat
6.  Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris



13. Tanda petik tunggal
1.  mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain
2.  mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing


14. Tanda garis miring
1.  dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim
2.  dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap

15. Tanda penyingkat
1.  menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun















BAB IV
PENUTUP

Penggunaan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai ejaan yang disempurnakan (EYD) sangat penting dalam kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia. Dimana bahasa Indonesia itu sendiri adalah bahasa yang mempersatukan bangsa ini, sehingga penting keberadaannya untuk digunakan secara baik dan benar.
Sebagai mahasiswa yang merupakan bagian dari bangsa ini, adalah penting untuk mempertahankan hal ini, karena bahas Indonesia penting keberadaannya.

















                            DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2009  (2009)
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P&K Nomor 158/1987, Nomor 0543b/U/1987 tentang Pedoman Transliterasi Arab Latin.

4 comments:

  1. itu di atas antarkota ditulis sambung, tapi kok di contoh C di tulis pisah? Yang benar yang mana?

    ReplyDelete
  2. Saya Rambo Hitam dari Grammy, saya bekerja di Kem Grammy, isteri saya meninggal dunia 6 tahun yang lalu dan sejak saya menjaga anak tunggal saya bernama Clinton, seorang kawan nasihat saya untuk mencari isteri, pada pencarian saya bertemu Jennifer dia dan wanita Inggeris, Saya suka begitu banyak bahawa saya boleh memberikan segala-galanya dia berusia 37 tahun, selepas beberapa waktu bertarikh saya begitu banyak cinta dengannya, kami mempunyai beberapa salah faham, dan dia pecah dengan saya dan saya merayu kepadanya untuk kembali anak saya dipanggil dia berkata Tidak, bahawa dia telah menemui orang lain, dan kita suka antara satu sama lain selepas beberapa hari saya membaca artikel tentang bagaimana Dr Lomi boleh membantu membawa kembali , Saya memutuskan untuk mencuba, saya menghubungi Dr Lomi untuk membantu beliau memberitahu saya apa yang perlu dilakukan untuk membawa balik kekasih saya yang saya lakukan, dia melakukan doa dan Jennifer kembali dia mencintai saya dan menghargai saya lebih sekarang, dan kami mempunyai masa terbaik dalam hidup kita, Dr Lomi juga menyediakan beberapa herba semulajadi yang membuat saya kuat dan sihat lagi sekarang saya merasa seperti seorang pemuda saya berpuas hati dengan seksualnya sangat baik kita berdua gembira, hubungi Dr Lomi pada nombor WhatsApp +2349034287285 atau e-mel kepadanya di lomiultimatetemple@gmail.com HE MEMPUNYAI PENYELESAIAN TERBAIK UNTUK ANDA

    ReplyDelete